Kau adalah apa yang kau makan.


Kau adalah apa yang kau makan.

Jelitamu, indahmu, presensimu. Pantas saja mereka serakah atas bagain-bagian dirimu. Tuai mekar bungamu; separuh mengggelinjang. Sebab kita adalah apa yang kita makan. Ia ingin lengkung punggungmu, yang dalam menyimpan kasihmu—telaga penuh bunga teratai merah, ia ingin bola matamu yang menyimpan pohon-pohon di dalamnya. Ia ingin sepetak tubuhmu, labium milikmu, hingga jantung puisimu.

Sebab ia ingin menjadi apa yang ia makan.
Kau; lekuk tubuhmu, apa yang tidak ia miliki.
Kasih-kasih yang berserakan di atas lantai melebur bersama gemertak giginya, senyum yang tak lagi mampu engkau raba, tetapi berkali-kali engkau rasa.

Sebab kini, ia adalah apa yang ia makan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *