Mengapa begitu takut pada pemakaman? Tulang belulang ltelah menjadi rumah bagi para belatung. Tak ada mata yang menggunjingmu, buruk rupa tak terlihat dari bawah sana, apalagi perangai, apalagi tabiat. Saatkau merasa setiap tempat menjadi tak aman bagimu, kau tahu tenang itu terkubur bersama tubuh para mayat.
Kau tak perlu tahu mayat siapa yang terkubur di bawah sana, tubuh siapa yang terhimpit sesaknya tanah, kau tak perlu mengkhawatirkan mereka yang telah menanggalkan hidupnya. Tanah adalah ranjang yang paling hangat, lebih hangat daripada ranjang perempuan yang dijual ayah mereka dalam kesepakatan pernikahan. Para tetangga adalah daging-daging busuk, jantung, hati atau paru-paru yang meleleh. Kekasihmu tidak lebih jujur daripada pembusukan tubuh.
Maka tanyaku: mengapa kau begitu takut pada pemakaman?
Tak ada yang peduli soal celana dalammu di sana. Tak ada yang repot-repot menyibak kainmu, sebab mereka pun sama telanjangnya—daging,otot, dan lemak telah tanggal dari setiap pemilik tubuh. Siapa pula yang masih ingin memperdebatkan soal perawan ketika semua yang tersisa hanyalah tulang dan tanah basah? Tak ada yang bisa merebut apapun darimu secara paksa. Tak ada tafsir tentang sabda Tuhan yang akan mengerdilkanmu. Bagai tak mungkin membedakan gigi dan kuku kaki—semuanya telah meleleh menjadi massa yang sama. Mereka hanya bangkai yang pendiam, dan justru karena itulah pemakaman menjaditempat yang paling adil.
Kuburan tak pula menjanjikan surga atau neraka, ia tak membohongimu. Bau busuk tak mampu meniru aroma bunga, apalagi cinta. Pembusukan tidak pura-pura setia. Kuburan hanyalah orang-orang tak hidup, tak memberi hidup, tak pula mengusik mereka yang hidup. Maka tanyaku tetap sama, mengpa begitu takut pada pemakaman, jika hidup sendiri tak pernah benar-benar membuatmu merasa hidup?
