(Anak Perempuan) Kecanduan Fore.


Buttercream latte,
Bangku di depan AC,
Lampu kuning, tidak terlalu terang
Menyilangkan kaki

Aku punya banyak kebiasan yang hadir sejak mengenal Fore. Aku juga punya banyak teman-teman baru yang mengenalku, menyimpanku di kepala mereka, karena Fore. Memang, apa saja bisa menjadi sumbu cinta—siapa yang tahu, pelatuknya bukan api, tapi biji kopi, yang hadir pahit senonoh—mengilangkan dahaga, kau cari dia pada setiap teguk, dan kafeinnya akan selalu menemukanmu. Saklar di kepalamu, dan tiba-tiba semua terang, kau tidak sakit kepala lagi, kau tidak ingat rasanya kehilangan, kau tidak ingat bau busuk yang menusuk hidung ketika lelaki tua di kampung halamanmu menggunjing ibumu karena dia seorang janda.

Belatung-belatung dipunggungmu mulai terkena penyakit magh akut, mereka satu persatu berguguran di lantai kuning kedai kopi itu, kau kini hanya setengah sundal—tidak cukup lacur untuk dipanggil kuntilanak, dan aroma biji kopi yang menyengat itu menutup vaginamu rapat-rapat. Kau adalah perawan di sini. Kau adalah pelacur di sini, kau adalah seorang ibu di sini. Kau jalang gila. Kau—katakan apa yang kau kehendaki, tidak ada yang peduli padamu. Mereka sibuk meneguk candu yang diseduh bersama susu.

Dan seketika kau tidak peduli apakah Ayahmu membalas pesan atau tidak, toh barista Fore itu akan membalas senyummu lebih cepat, tepat saat kau membuka pintu, ia katakan padamu, “selamat datang di Fore.”

Dunia apapun yang kuciptakan di kedai Fore ini, ya, aku kecanduan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *