Payudaraku bengkak, penuh susu basi. Aku gagal berlaktasi dan rahimku berbau anyir. Bakteri-bakteri kecil menggeliat pada lipatakan perutku, membentuk sarang, lubang-lubang. Tak juga tangis bayi terdengar—suara nyaring itu hilang. Aku kelimpungan. Adakah sesuatu tertinggal?
Tubuhku nyaris tenggelam pada kasur, kekasih—darahku berubah panas dan mendidih, aku separuh meleleh. Tetapi bagai kontradiksi, hitam dan putih, perutku mulai mengeras. Udara masuk dan penuh di dalamnya, perutku menjelma balon penuh udara. Kuku tanganku rontok satu persatu, aku meyakini kepalaku mulai botak.
Tubuh ini rusak.
Separuh kasur ini berbau busuk. Tetapi kepada belatung-belatung kecil menggeliat yang berjalan pelan dari lidahku, kuminta mereka untuk menghangatkan bagianmu, kasur yang biasanya kau tumpangi.
Sedang jiwaku—separuhnya kini meluruh pada setan berkepala kambing, ia berjanji, mampu menghentikan perputaran jarum jam agar yang mati boleh menetap, dan janjinya, kau pasti akan didatangkan pula. Sebab yang hidup harus membayar hutangnya. Pertemuan.
