Malam menyadarkan bahwa kau berpangkal pada tungkai, merogoh ujungnya. Sendu yang menetap pada wajah sang dara ialah jari-jemarimu. Sang penyemai, manusia memang memulai hidup dari bertani.
Picik. Licik. Siapa peduli pada embun-embun tanah? Siapa peduli pada lintah penghisap yang menggeliat, kau pun tak kalah rakusnya. Meliuk-liuk kehausan, lunak dan meledak pada pangkal tungkai. Anak manis, yang bersemu memerah sisi wajahnya, yang membunuh suci dalam kepalanya, yang mengunyah buah pengetahuan, kau, anak iblis, mekarlah pada malam.
Mekarlah di atas ranjang
Angkat pinggulmu dan mendongaklah pada sunyi, kita tak hidup untuk tunduk pada setiap sekat yang memutilasi diri. Kita tak tunduk pada kefanaan yang berakhir esok hari, kita tak percaya pada air susu bersilangan menjadi sungai. Lebih syahdu menyusu pada perempuan, lebih syahdu menyilangkan kaki, lebih syahdu menderu nafas.
Kau, yang gemar menyamai.
Tak ada daging segar yang mampu mempertahankan diri pada medan sakau, mabuk pengetahuan, mabuk ketidaktahuan. Tapi lidah tak pernah mengenal anyir darah, ia jatuh cinta pada gumpalan-gumpalan lemak. Mungkin sudi membasahi garis silang menyilang, luka menganga pada permukaan kulitmu bekas percumbuan para iblis kekasih. Bangkai, yang hidup separuh menggelinjang, ia semai berpangkal malam.
Dan mekar anak perempuan di atas ranjang,
Sedang (sang) lelaki meneruskan penyemaiannya,
Menyemai bangkai.
