Benang Merah (1), Jelita.


Suatu ketika kau bertanya kepadaku, “percayakah kau pada benang merah yang menguntai di antara anak Adam dan Hawa yang saling berbagi takdir?” Aku menunduk ragu, kutatap gusar benang-benang kusut di antara kakiku—dan pada akhirnya, aku hanyalah benang semrawut yang menghalangimu menuju firdaus.
“Aku tidak percaya,” tuturku, berpaling. Aku tidak percaya bahwa kita hanya ditakdirkan untuk menjadi penggenap, tulang-tulang rusuk yang hilang. Tidak bisakah kita saling berbagi rahim? Kucengkram erat pinggulku yang ngilu, di sana, ada lubang kosong melompong, tempat dulunya sebuah tali merah menguntai.
“Mengapa kau tidak percaya?” Kau memang selalu penuh tanya, dan itulah yang membuatku jatuh cinta pada isi kepalamu—sungguh, tidak bisakah kumiliki rambutmu? “Merah yang kupercaya hanya darah haid.” Jawabku, meninggalkanmu. Perasaanku. Harapanku. Lain kali, akan kurajut megah benang merah ini di antara kita, jelita.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *