Semula resah, kau di tulang belikat tumpah ruah, menyebar bagai virus dan menggerogoti jaringan tubuhku. Pada pinggul, tempat di mana lengan senantiasa beradu, kau cemari benang merah itu—seolah kita punya pilihan, dan seolah surga bisa dicari pada tiap lekuk tubuh.
Kau tahu kita sedang membohongi diri. Gaun pengantin putih dan angan-angan. Aku cemburu mendengar sepasang kekasih yang menjadi pemeran utama dalam syair cinta. Sementara bagianku hanya sepenggal bait tak sampai, menusuk dari belakang—merobek panggulku. Bercucuran aku pada baju pengantinmu.
Kekasih. Pada akhirnya takdir kita adalah terjatuh
Busuk dan tenggelam. Benang merah itu menjelma belatung-belatung kecil, menggeliat di antara tulang rusuk yang tak patuh, menghalanginya untuk saling berbagi takdir.
Kekasih, takdir kita adalah menjadi pengantin buruk rupa. Berhias kepangan usus-usus busuk menjuntai dari kepalaku, kebahagiaan yang akan membusuk dalam sehari.