Kau bilang, tiada yang lebih indah dari bola mataku
Bak kasih pertiwi mengalir penuh haru
Dan kau nikmati sejuknya pohon-pohon beradu
Sinar jingga hingga semilir angin dari mataku
Kau bilang, tiada yang lebih mempesona
Dari hangat yang menjalar pada wajahku yang merona
Seolah Ibu pertiwi mendekapmu di sana
Dan engkau mencuri sebagian kasihnya
Menyisakan bunga yang tumbuh liar dan mewangi
Badak bercula satu yang dilindungi
Burung cendrawasih yang kau kagumi
Dan segala yang merayu indramu itu
Membuatmu ingin menetap pada tubuhku
Kau huni sebagian substansi jiwaku
Dan bersabda atas nama Tuhanku
Dan aku kehilangan benang merah
Yang dahulu menghubungkan tubuhku
Dengan desaku yang penuh rumah
Dengan anak-anak kampung yang ramah
Dan aku bukan lagi bagian dari tatanan sosial itu
Kecuali, perempuan yang dihantui dosa
Perempuan yang habis dijanjikan surga
Perempuan yang bergemuruh darahnya
Mendidih-didih hendak menentang takdirnya
Dari kesumat dapur, sumur hingga kasur
Oh bukankah engkau menyukai bola mataku?
Yang katamu ialah cerminan bumi pertiwi
Mengapa tanganmu menjamah tanahku?
Yang katamu adalah berkah bagi bumi
Dan dengan mata telanjang
Kusaksikan engkau mencuri seikat ilalang
Menaruhnya pada tubuhku yang mengawang
Lantas kau bawa arang dan belerang
Hingga api menjalar dan mataku tak lagi mampu memandang
Terkubur aku di antara kakimu
Yang gagah namun pilu
Yang cerdas namun silau
Kembali aku dalam peluk bumi
Yang sedari dulu ingin kau kawini
Dan barulah kusadari
Mengapa engkau begitu melambung tinggi
Sebab di bawah kakimu ada tubuh kami
Yang kau kubur bersama jerat patriarki
Dan jadilah engkau begitu besar
Menyembunyikan setan-setan sangar
Dalam buruknya perangaimu
Dan tabiat pernikahanmu
