Malam Para Babu.


Kita menjadi liar pada Sabtu malam, melebur bersama ego pada minggu malam, agar kita kembali segar untuk bekerja pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat—irasionalitas pada rasionalitas disiplin kerja yang kian buram. Kita menyambung hidup menjadi pekerja berseragam, berharap atas pundi-pundi hasil kerja dari pagi hingga malam. Tetapi sayang—gajimu bahkan tak cukup untuk membayar hotel sehari semalam. Tuan besar berdasi masih berwajah masam, enggan membayar keringat tubuh kita yang bekerja hingga lebam-lebam.

Sayang, haruskah ketidakmampuan ini memutilasi seksualitas kita? Kita bercumbu di dalam mobil mu saja, menghapus jejak malam yang nestapa. Upah kita belum juga masuk ke dalam rekening keluarga, kita tidak mengantongi apa-apa. Aku juga tidak mengenakan apa-apa, basah oleh keringat berbau tubuhmu yang kini tepat di atas kepala. Aku tidak suka bekerja—tetapi aku suka menghitung kancing bajumu sembari belajar mengeja, melenguh, mendesah melantunkan namamu tanpa terpaksa. Sayang, ingatlah bahwa kita harus kembali bekerja.

Mungkin itu suara pekerja lain yang berjalan sembari memaki pemilik gedung sebab gajinya yang belum terbayarkan, sedang di sini kita sedang di atas awan, kamu tengah menjadi teladan; mencoba meraih bunga teratai merah milik perempuan sawan, jemarimu menggelitik buai gemas tubuhku seolah kita tak memiliki beban, persetan semua tunggakan yang harus kita lunaskan. Aku ingin bebas menggelinjang oleh jari telunjukmu yang basah tak beriman. Bajingan, bajingan.

Mungkin puluhan menit telah berlalu, tetapi kita belum juga mencapai taman surga penuh kupu-kupu. Aku berharap lampu parkiran ini remang-remang sehingga kita tak menimbulkan kegaduhan baru. “Tidak tahu malu,” atau “Tidak punya uang tetapi penuh nafsu,” meski aku akan membenarkannya tanpa ragu. Sebab kita ini butuh waktu untuk melebur; bertelanjang dan menggelinjang setelah seharian menjadi babu. Persetan tabu yang ditujukan pada daku. Malam ini kita jadi insan penuh rayu, sepasang rungu yang terus mendamba; bermata sayu.

Ah. Maaf, maaf—kamu begitu hebat malam ini, sayang. Seolah tadi pagi tak bekerja lintang pukang, seolah tagihan tak menjadi bayang-bayang dan melupa akan gaji yang masih menjadi hutang. Kamu begitu hebat malam ini, sayang. Aku menggelinjang, seolah kerang tanpa cangkang—kamu penuh dalam tubuhku yang telanjang, mencuri bintang di antara ilalang. Basah—mobil ini penuh kunang-kunang juga kamu yang akhirnya melenguh panjang.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *