Mantra Perempuan (Hari Ketujuh)


Meluruh lah engkau, meluruh lah
Meluruh lah aku, meluruh lah.

Berbayang-bayang harum mewangi lekas sirna dari penghujung kaki, terjebak rumitnya hari ketujuh di poros lembayung bersimpuh, menyulut tubuh oleh nyala api yang mengigit dari panggul menuju pinggul dan sisa suburnya tanah masih berkelana dengan genggam riuh yang tumpul di bahul baju, berharap reruntuh rahim sirna dalam hutan gundul.

                       Datang lah membawa kabul
                           Datanglah membawa bakul

Datanglah batang pohon membawa cangkul untuk raga yang dirangkul semburat penabur. Runtuhlah embun daun pagi yang ngilu di antara paha yang terikat, rapat tanpa sekat. Sekuncup daun jati yang dilubangi oleh raksasa pengerat, induk-induk Malekat terbang menjauh dari kotor dosa separuh tercekat.

Luruhlah gumpalan hitam berisi sihir-sihir kejam, dendam, demam, lebam yang mengurusi seluruh kaum perempuan. Mengosongkan sepekan pertama, merebut pekan kedua, menyisihkan pekan ketiga. Lantas yang subur hanya sepekan terakhir. Angin segar, gua yang jauh dari letak mercusuar, hancur menghantam bintang polar di tubuh induk lunar, rahim rembulan, kalah telak aku—oh, hari ketujuh masih segaris lembar waktu.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *