Hari ini tidak makan
Hari ini tidak ada cinta di meja makan
Hari ini tidak kucintai kau dalam sebuah puisi kanibalisme. Pisau bukanlah rumah, pisau itu berkarat dan tua; monopause. Tak mampu menggenangi darah, tawa anak-anak. Masa kecilmu sudah terlanjur terluka, waktu berlalu dan kau gagal bertumbuh. Orang-orang menua tapi kau bahkan tak mampu berkeputusan.
Memakan adalah pelarian—memakan adalah pelarian, sampai di mana kau sanggup berlari? Duduklah. Tahan bokongmu dari rayuan iblis menyantap lekuk kekasihmu yang syahdu, oh buai gemas tubuh itu! Dimutilasi berkali-kali agar kecil, permadani, dan kau mulai mengagumi darah yang aromanya anyir. Kau tidak jatuh cinta, kau hanya merindukan ibumu, aroma darahnya yang meluruh dari vagina ketika kau, parasit, keluar dari perutnya.
Memakan adalah candu, dan kau mabuk. Seperti ayahmu yang mabuk oleh rasionalitasnya—laki-laki, perkasa, gagah. Menelan seisi rumah dan menyisakan puing-puing berserakan di hatimu. Puing kecil bergerigi yang mulai menggerogoti tubuhmu dari dalam. Pantas lah kau kehilangan kesadaran.
Berhentilah memakan—
Tubuhmu penuh oleh daging busuk dan kau tak pernah beranjak untuk menyelesaikannya.
