Oh Tuan.


Melihat tembok-tembok retak dan kuharap retinaku bersirobok pada kau, yang gemar bersembunyi, yang gemar menempatkan diri di antara luka borok, bekas-bekas pemotongan tubuh.


Tiga tangkai bunga ini akan segera layu, akan segera menjemput ajal, dan diriku pun tak akan selamat dari maut, dari pangkal kefanaan. Sebabnya yang bernafas akan kembali pada hangatnya dekap tanah.
Sedang ketika kau mendingin dalam ruang-ruang kosong, kuharap tembok itu menyimpan isi kepalamu, lendir merah muda yang lengket memabukkan, penuh pengetahuan.


Kuharap bangunan besar ini sesungguhnya adalah dirimu, sehingga aku boleh mencumbui rangka baja, menyemai tubuhmu yang hilang, terbengkalai. Bersetubuh semen kering dan atap kumuh silang menyilang.


Kuharap aku gila, kuharap semua orang gila, kuharap tak ada yang mencari waras ketika kuketahui dirimu adalah bangunan kuning tua ini.


Oh tuan,
Bolehkah kita mekar lagi?


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *