Apa yang lebih indah dari lampu yang menggantung-gantung
Dan ruang makan berhias patung
Ketika raga tinggi mu melambung
Beriring lagu cinta yang bersenandung
Penuh rayu kau raih jemariku
Dan kau dudukkan tubuhku di atas kursi kayu
Menjadikan kita sepasang rungu
Yang saling memandang dengan lugu
Aku berusaha menenangkan detak jantungku
Yang perlahan hilang setelah bertalu-talu
Lantas wajahmu tak lagi bersemu
Dan kau menjadi bayang-bayang semu
Yang dari bola matamu mengalir air paling anyir
Tanganmu di penuhi lendir
Sedang aku mabuk oleh presensi bunga anyelir
Yang layu seolah menunggu ku berakhir
Lantas engkau mulai menyajikan tubuhku
Di atas meja kayu dan menatapku saru
Kau sajikan aku sebagai makanan
Bagi sukma yang rakus dan hati yang tandus
Kau sajikan potongan tubuhku
Dan mereka mulai memperebutkan rahimku
Kalian melahapku dengan rakus
Hingga lahir anak perempuan dari rahimku yang nyaris putus
Kalian melahapku terus menerus
Tiada peduli padaku yang tergerus
Dan kau memaksa untuk anak laki laki sebagai penerus.
Yang nantinya akan duduk di samping mu
Dan mewarisi perangaimuu
Lantas kau ajarkan ia ‘tuk menyantap tubuhku
Tubuh istrinya, anak perempuannya, teman perempuannya.
Menjadikan ia pelahap dan penguasa
Sedang kami berakhir sebagai perempuan tanpa sisa.
