Ada yang muntah pada penghujung malam, menjelang fajar—bibir lelaki congkak itu berdarah; ia memuntahkan ‘lonte’ dari bibirnya, belatung-belatung, menggeliat. Tiada paha tanpa daging busuk. Barangkali ia kerasukan, di balik gusi dan gigi geraham, lidahnya mengeras, menghitam seperti akar beringin mati, menyebut lonte, lonte, lonte—mantra murahan dari Lorong-lorong kota tua, tercemar darah haid, air ketuban, tak beraturan.
Dan ingatlah bahwa langitpun, milik perempuan. Awan-awan malam membuka matanya, merah saga seperti rahim di rendam cuka, syaraf-syaraf, mencekik bintang, sedangkan bulan telah tiada, mengendap menuju kerongkongan labium. Lubang-lubang gelap, pengap—yang tak akan berpaling dari takdir. Anak-anak tanah, penuh lumpur. Dari mereka telah bangkit perempuan-perempuan yang dahulu dituduh, dibakar, ditelanjangi zaman, mati dalam pernikahan, disunat, dikorbankan, disembelih. Mereka menjinjing rahim mereka sendiri, basah, gemetar rahim besi.
Tidak tahukah lelaki itu—bahwa ia, telah memanggil perempuan? Para penyihir tua berdansa di tulang rusuk hawa. Urat-urat lidah menggantung, siapa yang peduli pada rambut panjang? Kau akhirnya, akan telanjang. Mereka adalah panen, tanpa mesin tenun. Menyulam takdir, menentukan bagaimana hari esok akan berakhir.
Bedebah pongah!
Dengarlah nyanyian mereka.

Kembalilah ke dalam rahim lonte!
Yang kau campakan dari bibirmu malam itu. Menjelang fajar, setiap rumah yang memar-memar. Kau dikutuk sederhana, hanya oleh panci-panci berjejer, kompor, piring, sendok, nasi, popok!
Setiap waktu yang dihabiskan perempuan di dapur—
Akan melahapmu.
Bibirmu.
Sekalipun kau meronta-ronta dalam tidur. Kau akan berkeringat, sebab kau dikejar perempuan, para lonte! Mereka memang pemakan jiwa, penghisap.
Rahim adalah rumah terakhir
Dan rumah,
jika terus diinjak,
pada akhirnya
akan menelan penghuninya hidup-hidup.