Anak tangga tahu betul kemana tuannya akan melangkah, tidak salah lagi, mengikuti aroma bangkai menyengat dari sudut ruangan. Tidak perlu menduga-menduga, itu hanya aroma bangkai tikus. Tidak ada yang ganjil dari rumah ini, gaib adalah tahayul dan sang pemilik teguh pada ketidakpercayaannya.
Mati adalah sebuah kepastian, siapa yang berani ingkar? Dikatakan pada surat Ali-Imran ayat 185, setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Bukanlah sebuah keterkejutan apabila satu persatu penghuni rumah ini akan mati, cicak pembawa dosa, semut pencuri gula, kecoa penghuni kamar mandi, dan hari ini, giliran si tikus serakah itu untuk menemui ajalnya. Aku tidak berniat mencampuri urusan Tuhan, biarlah aku jadi tukang kubur, sebab tak seorangpun bisa lari dari bagiannya.
Aku hanya perlu berhati-hati, sebab kecoa dan tikus pandai beranak dalam gelap, dan manusia adalah keturunan Adam dan Hawa yang diusir dari surga, sebagian dariku adalah menghitam, jalanku tidak selalu lurus, kadang langkahku berperencar pada pelacur, para sundal, dukun perempuan. Kugali tanah kosong di samping rumah—pelan-pelan, sebab tetangga adalah tukang intip, tukang gossip! Jangan sampai aku salah melubangi tanah, malam adalah perayu ulung dan ia gemar menyesatkan langkah.
Tanah kubur disebalah adalah pintu neraka, aku tahu betul—tiada yang lebih tahu daripada aku, sebab aku sendiri yang mengubur penghuninya di sana. Ia tukang judi, tangannya besar, melempar tubuhku ke udara dan menunggu aku akan jatuh di sisi mana. Apakah bokong atau payudaraku yang akan mendarat di atas meja. Ia suka bertaruh tatap, yang mana lebam, tangan atau kaki, kepala atau perutku.
Dan aku benci pendosa, pengingkar Tuhan. Laknat. Tidaklah pantas ia menumpang dalam rumah atau bahkan menikmati tubuh anak Tuhan di atas ranjang. Maka ku kembalikan ia, pada tempat, di mana ia berasal. Di bawah kakiku, di dalam tanah. Biar Tuhan tunjukkan keadilan padanya—dan aku enggan mencampuri kuasa Tuhan.
Aku hanya tukang kubur.
Ia hanya kucampakkan ke dalam tanah.
Hari itu, untuk pertama kalinya kulihat ia begitu lemah, bagaimana bisa seorang penguasa memohon pada tawanannya?
Tapi aku berpaling setelah menimbun tanah.
Aku hanya tukang kubur, sisanya aku berserah diri pada Allah.
