-
Oh? To be loved is to be eaten? Hari ini tidak ada makanan di meja makanmu!
Hari ini tidak makan Hari ini tidak ada cinta di meja makan Hari ini tidak kucintai kau dalam sebuah puisi kanibalisme. Pisau bukanlah rumah, pisau itu berkarat dan tua; monopause. Tak mampu menggenangi darah, tawa anak-anak. Masa kecilmu sudah terlanjur terluka, waktu berlalu dan kau gagal bertumbuh. Orang-orang menua tapi kau bahkan tak mampu berkeputusan.…
-
Laki-laki yang Menyemai Bangkai.
Malam menyadarkan bahwa kau berpangkal pada tungkai, merogoh ujungnya. Sendu yang menetap pada wajah sang dara ialah jari-jemarimu. Sang penyemai, manusia memang memulai hidup dari bertani. Picik. Licik. Siapa peduli pada embun-embun tanah? Siapa peduli pada lintah penghisap yang menggeliat, kau pun tak kalah rakusnya. Meliuk-liuk kehausan, lunak dan meledak pada pangkal tungkai. Anak manis,…
-
(Berisi umpatan perempuan pemarah)
Aku melarutkan rahim di dalam semangkuk cuka, hingga cawan-cawan berwarna merah dan benang-benang syarafnya membengkak. Akan kubunuh rahim itu sebelum perang pecah tahun depan guna mencegah lahirnya anak-anak bersepatu laras. Akan kutenun benang di antara bibir vagina—membentuk bunga-bunga berkelopak kecil setangkai berhimpun, membakar hutan-hutan rimbun agar ia membumi hanguskan parasit di dalam perutku. Parasit tanpa…
-
Malam Para Babu.
Kita menjadi liar pada Sabtu malam, melebur bersama ego pada minggu malam, agar kita kembali segar untuk bekerja pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat—irasionalitas pada rasionalitas disiplin kerja yang kian buram. Kita menyambung hidup menjadi pekerja berseragam, berharap atas pundi-pundi hasil kerja dari pagi hingga malam. Tetapi sayang—gajimu bahkan tak cukup untuk membayar hotel…
-
Hutang.
Payudaraku bengkak, penuh susu basi. Aku gagal berlaktasi dan rahimku berbau anyir. Bakteri-bakteri kecil menggeliat pada lipatakan perutku, membentuk sarang, lubang-lubang. Tak juga tangis bayi terdengar—suara nyaring itu hilang. Aku kelimpungan. Adakah sesuatu tertinggal? Tubuhku nyaris tenggelam pada kasur, kekasih—darahku berubah panas dan mendidih, aku separuh meleleh. Tetapi bagai kontradiksi, hitam dan putih, perutku mulai…
-
Oh Tuan.
Melihat tembok-tembok retak dan kuharap retinaku bersirobok pada kau, yang gemar bersembunyi, yang gemar menempatkan diri di antara luka borok, bekas-bekas pemotongan tubuh. Tiga tangkai bunga ini akan segera layu, akan segera menjemput ajal, dan diriku pun tak akan selamat dari maut, dari pangkal kefanaan. Sebabnya yang bernafas akan kembali pada hangatnya dekap tanah.Sedang ketika…
-
Benang Merah (2), Pengantin Buruk Rupa.
Semula resah, kau di tulang belikat tumpah ruah, menyebar bagai virus dan menggerogoti jaringan tubuhku. Pada pinggul, tempat di mana lengan senantiasa beradu, kau cemari benang merah itu—seolah kita punya pilihan, dan seolah surga bisa dicari pada tiap lekuk tubuh. Kau tahu kita sedang membohongi diri. Gaun pengantin putih dan angan-angan. Aku cemburu mendengar sepasang…
-
Benang Merah (1), Jelita.
Suatu ketika kau bertanya kepadaku, “percayakah kau pada benang merah yang menguntai di antara anak Adam dan Hawa yang saling berbagi takdir?” Aku menunduk ragu, kutatap gusar benang-benang kusut di antara kakiku—dan pada akhirnya, aku hanyalah benang semrawut yang menghalangimu menuju firdaus.“Aku tidak percaya,” tuturku, berpaling. Aku tidak percaya bahwa kita hanya ditakdirkan untuk menjadi…
-
(Anak Perempuan) Kecanduan Fore.
Buttercream latte,Bangku di depan AC,Lampu kuning, tidak terlalu terangMenyilangkan kaki Aku punya banyak kebiasan yang hadir sejak mengenal Fore. Aku juga punya banyak teman-teman baru yang mengenalku, menyimpanku di kepala mereka, karena Fore. Memang, apa saja bisa menjadi sumbu cinta—siapa yang tahu, pelatuknya bukan api, tapi biji kopi, yang hadir pahit senonoh—mengilangkan dahaga, kau cari…